Mengetahui Sejarah Perumusan Naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Jakarta - 17 Agustus 2021 adalah hari peringatan kemerdekaan Indonesia. Untuk itu, mari kita mengingat kembali sejarah perumusan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia yang dibacakan pada tanggal bersejarah 17 Agustus 1945.
Menyerahnya Jepang Pada Sekutu
Berikut ini adalah uraian mengenai sejarah perumusan naskah proklamasi
kemerdekaan Indonesia berdasarkan buku IPS Terpadu Untuk SMP dan MTs
Kelas VIII Term 2 oleh Y. Sri Pudjiastuti dkk (Penerbit Erlangga,2007,
hlm 25-28).
Jepang menyerah kepada sekutu. Hal ini menyebabkan terjadinya kekosongan kekuasaan di Indonesia. Salah seorang tokoh pemuda, Sutan Syahrir mengetahui penyerahan Jepang kepada sekutu dari siaran radio.
Ia kemudian menyampaikan pada Bung Karno dan Bung Hatta yang saat itu baru saja pulang dari Dalat (Saigon), Vietnam dan mendesak supaya kemerdekaan Indonesia segera diproklamasikan. Namun Bung Karno dan Bung Hatta tidak sepakat akan hal tersebut.
Bung Karno dan Bung Hatta berpendapat bahwa proklamasi kemerdekaan perlu
dibicarakan dengan PPKI namun para pemuda tidak sepakat akan hal
tersebut. Menurut mereka kemerdekaan Indonesia harus diselenggarakan
oleh bangsa sendiri, sedangkan menurut mereka PPKI adalah buatan Jepang.
Peristiwa Rengasdengklok
Para pemuda mengadakan rapat di Jalan Cikini No 71, Jakarta. Mereka
sepakat untuk membawa Soekarno dan Hatta ke luar kota supaya terhindar
dari pengaruh Jepang dan segera memproklamasikan kemerdekaan.
Pada tanggal 16 Agustus 1945, para pemuda membawa Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Namun mereka tidak menemui keberhasilan dalam membujuk kedua tokoh tersebut untuk segera memproklamasikan kemerdekaan.
Kemudian Joesoef Koento, Achmad Soebardjo, dan Soediro segera menjemput Bung Karno dan Bung Hatta di Rengasdengklok. Achmad Soebardjo juga berhasil meyakinkan para pemuda bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia akan dilaksanakan pada 17 Agustus 1945 selambat-lambatnya pada pukul 12.00.
Perumusan Naskah Proklamasi
Setelah sampai di Jakarta, para tokoh kemudian merumuskan naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Naskah ditulis oleh Bung Karno dengan bantuan Bung Hatta dan Achmad Soebardjo.
Setelah selesai dituliskan konsepnya, Bung Karno membawa konsep naskah proklamasi yang masih berupa tulisan tangan tersebut ke hadirin yang hadir di rumah Laksamana Maeda tersebut. Soekarno mengusulkan agar naskah ditandatangani oleh semua yang hadir pada saat itu sebagai wakil-wakil bangsa Indonesia.
Namun Chairul Saleh tidak setuju karena anggota PPKI yang diangkat Jepang juga hadir pada saat itu dan menurutnya hal tersebut akan memberikan kesan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah buatan Jepang dan nantinya dikhawatirkan akan menyulitkan posisi Indonesia jika berhadapan dengan Sekutu.
Soekarni mengusulkan supaya Soekarno dan Hatta menandatangani naskah tersebut atas nama wakil-wakil bangsa Indonesia. Semua sepakat atas usulan tersebut, kemudian naskah tersebut diketik oleh Sayuti Melik dengan berbagai perubahan.
Pada 17 Agustus 1945, pukul 10.00, proklamasi dibacakan di kediaman Bung Karno di Jalan Pegangsaan No. 56.
Komentar
Posting Komentar