Mengenal Sosol Mbah Oden, Sang Pengrajin Blangkon Keraton Yang Legendaris
Jakarta - Bak merajut mahkota, Choirudin yang kerap disapa Mbah Oden menyelesaikan pesanan Blangkon di rumahnya. Mbah Oden merupakan satu dari sekian pengrajin Blangkon di Yogyakarta yang paling tua usianya.
Di usia
senjanya ia masih lihai merajut simbol kehormatan pria Jawa ini. Saat
ini Mbah Oden menginjak usia 72 tahun, setelah lebih dari setengah abad
bergelut dengan ratusan ribu Blangkon lewat kedua tangannya.
Melihat Blangkon secara langsung teringat dengan penutup kepala yang
dipakai para Abdi Dalem Keraton Yogyakarta. Mbah Odenlah yang menjadi
pengrajinnya. Tiap tahun, ribuan buah Blangkon selalu berakhir dipakai
para Abdi Dalem dalam melaksanakan tugas hariannya.
Tak berhenti sampai
di sana, bahkan Blangkon Mbah Oden mampu terbang ke Jepang, Korea, dan
Suriname, Amerika Selatan. Selain itu pejabat dan artis Ibukota juga
mengakui kualitas Blangkon buatan Mbah Oden.
Mbah Oden mulai membuat Blangkon tepat pada tahun 1965 saat usianya
genap 17 tahun. Ia merupakan generasi ke-2, kini di usia senjanya ia
kesulitan menemukan bakal calon penerusnya kelak.
Senyum Mbah Oden menggambarkan semangatnya yang masih membara, meskipun
kadang ia kesulitan merajut Blangkon tanpa kaca mata. Di ruangan inilah
Masa kejayaan Mbah Oden pernah bersinar.
Dahulu di tempat ini sedikitnya
ada 6 karyawan yang ia pekerjakan. Menyelesaikan 1.500 buah Blangkon
untuk para Abdi Dalem keraton.
Mbah Oden menuturkan, dahulu ia pernah mendapat pesanan ratusan Blangkon
dari Raffi Ahmad untuk memenuhi hajatannya. Selain itu Politisi Roy
Suryo juga pernah memborong puluhan Blangkon Mbah Oden untuk para
karyawannya.
Mbah Oden tidak sendiri, di Dusun Beji, Sidoarum, Godean, Sleman,
Yogyakarta ini ada kurang lebih 20 pengrajin Blangkon. Mereka termasuk
generasi ke-3 yang masih cekatan dalam merangkai Blangkon. Tak jarang
Mbah Oden berkolaborasi dengan pengrajin lain saat mendapatkan banyak
pesanan.
Rambutnya yang memutih tak mematahkan semangatnya untuk berkarya. Tak
disangka, di usia senjanya Mbah Oden menceritakan dirinya sempat
bercita-cita jadi tentara. Ia pernah merantau ke Maluku untuk memenuhi
impiannya.
Namun cita-citanya kandas, tak pernah mengenyam pendidikan
formal menjadikan Mbah Oden membantu orang ayahnya yang bernama Mbah
Somo Pawiro untuk memproduksi Blangkon.
Peralatan Mbah Oden sangatlah sederhana, mulai dari jarum, benang,
gunting, penjepit, hingga mesin jahit. Tak ketinggalan sebuah kayu
menyerupai kepala manusia yang disebut Plonco. Plonco inilah yang
menjadi cetakan blangkon saat dirangkai. Ada puluhan plonco, setiap
plonco sendiri memiliki ukuran kepala yang rata-rata ada pada manusia.
Plonco-plonco ini menjadi patokan Mbah Oden menentukan ukuran kepala
pemesan Blangkon. Mulai dari 47 hingga 60 semuanya tersedia, bahkan mbah
Oden punya stok plonco lebih yang ia gunakan saat memenuhi banyaknya
pesanan.
Mbah Oden mampu membuat blangkon dengan berbagai concept batik yang ada
di Yogyakarta. Ia mendapatkan kain dari pengrajin langganannya. Theme
batik khas Mbah Oden ialah motif Sidomukti, Asih Winarno, Wahyu Temurun,
Sekar Jagat, Gadung Mlati, Modhang, hingga Celeng Kewengen.
Tema dan bentuk setiap Blangkon di Jawa berbeda-beda. Ada Blangkon
Ngayogyokarto, Blangkon Surakarta, Blangkon Kedu, dan Blangkon
Banyumasan. Blangkon Yogyakarta sendiri punya 17 lipatan di sisi kiri
dan kanan, 5 lipatan di bawah, 6 lipatan dekat telinga, 1 mondolan atau
pegangan dan 2 lekuk di kepala.
Kain batik motif parang menjadi bahan dasar pembuatan Blangkon milik
Mbah Oden. Lembaran kain batik dipotong dengan hati-hati dipandu dengan
pola yang telah dibuatnya. Kain keras diselipkan di dalam Blangkon agar
bentuk Blangkon tidak mudah mengkerut. Jarum-jarum kecil ditancapkan
agar menahan setiap pola yang ia lipat.
Keberadaan Blangkon tak lepas dari penyebaran agama Islam di kerajaan
Mataram Islam. Mulanya Blangkon hanyalah sebuah ikat kepala yang terbuat
dari kain batik sebagai serangkaian dari pakaian adat Jawa. Fungsinya
mirip dengan sorban yang sering dipakai oleh para pemuka agama.
Semangatnya membuat Blangkon tak pernah padam, kini Mbah Oden hanya
tinggal seorang diri. Terlebih pandemi Covid-19 dan menurunnya endurance
membuat Mbah Oden hanya menjalankan usaha seadanya.
Meskipun tak
mengenyam bangku sekolah, berkat kesuksesannya Mbah Oden Mampu
menamatkan ke 3 anaknya hingga jengjang Perkuliahan. Sayangnya mbah Oden
belum menemukan titik cerah penerusnya di masa mendatang.
Harga Blangkon Mbah Oden bervariatif, mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp
750 ribu. Tak jarang para pemesan menentukan motifnya sendiri yang
membuat harga Blangkon semakin lebih mahal.
Di rumahnya Mbah Oden selalu memiliki stok fading sedikit 2 sampai 3 buah Blangkon. Mengantisipasi apabila ada pembeli yang datang secara langsung.
Komentar
Posting Komentar