Mengenal Sosok Djoewariyah, Sang Veteran Srikandi Palang Merah Indonesia Pada Zaman Penjajahan
Jakarta - Berbalut seragam professional kebanggaan, lengkap dengan topi dan pin
bendera merah putih yang tersemat. Wanita lanjut usia ini muncul dari
bilik pintu rumah. Sambil tersenyum ramah, Ia berjalan kemudian duduk di
sofa merah. Mengingat kembali kisah heroiknya sebagai srikandi Palang
Merah Indonesia saat zaman perjuangan.
Usianya yang kini menginjak 88 tahun tak membuatnya lupa kejadian kala
itu. Semua memori perjuangan sepak terjangnya masih tertanam jelas di
ingatan Djoewariyah Soehardi. Yogyakarta, 19 Desember 1948 saat Agresi
Militer II Belanda menjadi awal mula perjalan wanita yang kini akrab
dipanggil Eyang Djoewariyah.
Kala itu Belanda mulai melancarkan serangannya menyerbu hingga ke
jantung kota. Pukul 5 pagi, suara belasan pesawat tempur dan ledakan
keras terdengar dari lapangan udara Maguwo. Keadaan Kota Jogja kacau,
ribuan penduduk harus mengungsi ke arah selatan. Namun, Djoewariyah yang
kala itu masih remaja hatinya tersentuh untuk membantu prajurit perang.
Ia tak mengungsi, Djoewariyah remaja memilih menjadi tim Palang Merah
Indonesia. Merawat satu demi satu para prajurit Indonesia yang terluka. Usia yang kala itu masih sangat muda, 15 tahun membuat ibu Djoewariyah
sempat berberat hati.
Sang ibunda tentu saja takut kehilangan buah
hatinya. Serangan Belanda dengan tembakan menjadi kekhawatiran. Namun,
tekad kuat Djoewariyah perlahan membuat sang ibunda perlahan luluh.
Mengizinkan putrinya terjun ke medan perang.
Bersama lima temannya, Djoewariyah bergabung dalam kesatuan Tentara
Nasional Indonesia di bawah pimpinan Komaruddin sebagai anggota tim
Palang Merah Indonesia. Wanita kelahiran 1933 berjaga mengikuti prajurit
perang gerilya, sigap memberi pertolongan pertama pada tentara yang
terkena tembakan.
Dengan sabar, ia merawat setiap prajurit yang terluka. Membersihkan
luka, memberi perban kemudian mengobati. Untuk mengeluarkan peluru, Ia
harus membawa ke Rumah Sakit Ganjuran. Meski masih butuh perawatan
terkadang pihak rumah sakit tak mau menampung pasien.
Banyaknya orang yang terluka membuat rumah sakit melakukan hal tersebut. Djoewariyah meminta penduduk yang merawatnya sekitar 1-2 hari. Kemudian ia kembali intens merawat. Selain terlibat di garis depan, Djoewariyah juga menjadi kurir obat-obatan.
Obat itu ia peroleh dari bantuan yang diberikan beberapa
dokter Djawatan Kesehatan Tentara. Obat itu kemudian dibawa ke beberapa
lokasi prajurit dirawat, salah satunya adalah warung puas sate kambing
di Kampung Gamelan Yogyakarta.
Meski namanya warung kambing, namun sebetulnya tempat itu hanyalah
pura-pura warung. Pasalnya, di sana adalah tempat pertolongan para
gerilyawan. Jangan dianggap menjadi kurir adalah pekerjaan yang mudah.
Kurir harus
cerdik, gesit. Bisa-bisa tertangkap tentara Belanda. Perjalanan yang
ditempuh word play here tak semulus jalan saat ini, jalanan masih
terjal. Belum lagi jika harus menyeberangi sungai.
Ada kisah heroik saat ia menjadi kurir. Djoewariyah bersama sahabatnya
Jinah kala itu diminta mengantarkan surat rahasia dan senjata gun.
Sirene malam berbunyi setiap pukul 6 sore, menjadi penanda tak seorang
pun boleh keluar rumah. Namun Djoe yang sedang bertugas tetap harus
menjalankan kewajibannya.
Saat itu mereka sampai di Alun alun selatan, tiba-tiba pasukan Belanda
dan KNIL datang menghampiri dan bertanya akan kemana. Senjata dengan
sigap disembunyikan. Meski sangat takut, Djoewariyah berusaha tenang
mengatakan akan pulang ke rumah setelah diminta orang tua belanja.
Mengaku rumahnya hanya dekat di Suryodiningratan.
Tanpa basa-basi, Djoewariyah dan Jinah diminta naik ke atas jeep.
Menyusuri gelapnya jalan. tak tau akan dibawa kemana. Bisa jadi dibawa
ke markas pasukan Belanda di Benteng Vredeburg, dimana banyak pejuang
yang gugur di sana. Ia amat sangat takut, dan merasa itulah terakhir ia
hidup. Sambil berpegang tangan dengan sahabat, Djoe berbisik pelan
"Hidup kita berakhir, kita pasti mati"
Namun perkiraan Djoe salah, tentara Belanda justru membawa ke area
Suryodiningratan. Saat turun dari jeep mereka tak menyangka masih
selamat, rasanya seperti berada di antara hidup dan mati. Surat, senjata
dan obat-obatan pun berhasil sampai di tempat tujuan djoewariyah.
Djoewariyah juga menjadi ujung tombak palang merah Indonesia saat
serangan umum 1 maret 1949. Ia adalah orang pertama yang merawat para
pejuang yang terluka saat pertempuran saat itu. Ia juga dekat dengan
tokoh pejuang di Jogja Letnan Marsudi, Gusti Prabuningrat dan Dokter
Soetarto bekerja sama untuk memperjuangkan Republik Indonesia.
Setelah perang usai, Djoewariyah kembali ke rumahnya dan menjalani
aktivitas dengan membantu orang tuanya. Pada akhir 1951, Djoewariyah
bertemu dengan anggota Polisi Brimob bernama Soehardi. Pada tahun
berikutnya, mereka berdua menikah dan dikaruniai enam orang anak.
Wanita yang lahir pada 25 Desember 1933 di Kampung Nagan, Kota
Yogyakarta ini kini tengah menikmati masa senjanya. Ingatannya yang kuat
tentang sejarah membuat Djoewariyah seringkali menjadi pembicara. Eyang
juga tak sungkan membagikan ceritanya pada orang yang ingin
mendengarkan langsung kisahnya.
Komentar
Posting Komentar