Kisah Mitsuyuki Tanaka, Seorang Tentara Jepang Yang Berpihak Membela Indonesia
Jakarta - Saat Jepang menyerah pada sekutu di tahun 1945, banyak tentara mereka
terjebak di negeri jajahan. Banyak dari mereka yang menyerahkan diri
pada sekutu dan kemudian menjadi tawanan perang.
Tak hanya itu, banyak pula dari mereka yang melakukan harakiri daripada
harus menyerah. Tapi ada pula tentara Jepang yang berpihak kepada
pejuang Indonesia. Mereka bersama-sama mengangkat senjata melawan
tentara Inggris dan Belanda.
Hal itulah yang dilakukan Mitsuyuki Tanaka. Setelah Jepang menyatakan
menyerah pada sekutu, Mitsuyuki kemudian bergabung dengan tentara Badan
Keamanan Rakyat (BKR).
Dilansir dari kanal YouTube Bagus Priyana
Magelang, Mitsuyuki memutuskan bergabung dengan BKR karena ingin melawan
sekutu yang telah menghancurkan negara Jepang.
Namun keputusan ini bukannya tanpa masalah. Di BKR ia banyak dicibir
sebagai orang yang hanya menyelamatkan diri dan tak pantas membela
Indonesia.
Hingga pada akhirnya pada 25 September 1945 pada sebuah peristiwa pengibaran bendera merah putih di puncak Gunung Tidar, Magelang, kesetiaannya diuji karena ia harus menghadapi tentara Jepang yang merupakan saudara sebangsanya sendiri.
Lalu bagaimana sikap Mitsuyuki Tanaka dalam menghadapi situasi dilematis ini? Serta bagaimana perjuangannya dalam perang revolusi setelah proklamasi 1945? Berikut selengkapnya:
Keturunan Samurai Jepang
Mitsuyuki Tanaka lahir pada 10 Oktober 1921 pada sebuah desa kecil
bernama Kiyomimura, Provinsi Gifu, Jepang. Di keluarganya, ia adalah
putra sulung dari tujuh bersaudara. Lahir dari keluarga keturunan
samurai, jiwa ksatria sudah ditanamkan pada Mitsuyuki sejak kecil.
Saat Mitsuyuki berumur 18 tahun, dia ikut program wajib militer bersama
pemuda-pemuda Jepang lainnya. Bahkan pada tahun 1939, ia harus
meninggalkan Jepang karena panggilan tugas militer. Karena inilah dia
harus meninggalkan sang istri, Tomiko Yano, yang baru dinikahinya dua
bulan sebelumnya.
Selama tugas militer itu, Mitsuyuki berpindah dari wilayah satu ke
wilayah lain. Mulai dari Manchuria, Taiwan, Singapura, dan Thailand.
Hingga pada tahun 1940 ia ditugaskan di Hindia Belanda. Di tempat inilah
ia pertama kali merasakan dahsyatnya pertempuran Perang Dunia II.
Pelatih Pasukan
Perang
Di Hindia Belanda, Mitsuyuki ditugaskan sebagai pelatih sebuah pasukan
bernama Jibatukai. Para anggotanya terdiri dari berbagai profesi seperti
expert, tukang, dan lain sebagainya. Tugas pasukan ini adalah membantu
pasukan inti Jepang dalam perang.
Selama periode 1942-1945, Mitsuyuki banyak terlibat dalam pertempuran
melawan sekutu. Berbagai pertempuran yang ia jalani membuatnya menjadi
tentara tangguh yang berpengalaman.
Namun seiring waktu pasukan Jepang semakin kewalahan menghadapi sekutu.
Hingga akhirnya setelah peristiwa bom Hiroshima dan Nagasaki pada
Agustus 1945, Jepang menyerah pada sekutu.
Saat itu banyak rekan-rekan Mitsuyuki yang menyerahkan diri pada sekutu
atau melakukan harakiri. Namun dia memilih untuk bergabung bersama BKR,
pasukan perang Indonesia yang merupakan cikal bakal dari TNI.
Tantangan Berat Menjadi Prajurit BKR
Bagi Mitsuyuki, bergabung dengan BKR bukanlah hal yang mudah. Ia banyak dicibir sesama anggota BKR lain karena dinilai tak pantas membela Indonesia. Namun pengalamannya dalam Perang Dunia II membuat Mitsuyuki menjadi sosok yang penting.
Dia banyak melatih para pejuang meningkatkan keterampilan dalam penggunaan senjata dan pelatihan peperangan, terutama bagi mereka yang tak pernah sekalipun mengenyam pendidikan tentara. Pada akhirnya, kesetian Mitsuyuki pada BKR harus diuji saat peristiwa pengibaran bendera merah putih di Puncak Gunung Tidar, Magelang.
Pada pagi hari setelah turun dari Gunung Tidar, pasukan BKR mendapat serangan tembakan dari tentara Jepang di markas Kenpeitai. Namun Mitsuyuki tak segan membalas serangan dari tentara yang merupakan saudara sebangsanya itu.
Saat pertempuran Palagan Magelang meletus pada 31 Oktober - 2 November 1945, Mitsuyuki berhasil menembaki dua pesawat cocor merah dari atas Watertoren Alun-Alun Magelang. Satu pesawat jatuh di Pasar Kaliangkrik, dan satu pesawat lain jatuh di Sapuran, Wonosobo.
Hampir Mati di Ambarawa
Selama menjadi prajurit BKR, Mitsuyuki sempat ikut dalam Pertempuran
Palagan Ambarawa. Pada saat itu, dia ikut menyerang sekutu yang
bermarkas di Gereja Ayam. Namun saat itu, sebuah peluru musuh menyambar
dada kirinya.
Seketika Mitsuyuki tak sadarkan diri. Ketika tersadar, dia melihat dada
kirinya sudah bersimbah darah. Hingga perang berakhir, bekas luka itu
masih terlihat. Bahkan dalam sebuah foto tampak Mitsuyuki tak segan
memperlihatkan bekas luka itu. Ia mengaku bersyukur bisa selamat meski
harus menanggung bekas luka seumur hidup.
Kembali ke Jepang
Pada tahun 1970, Mitsuyuki dipanggil atasannya di Angkatan Darat (AD) Jakarta bahwa ia difasilitasi untuk kembali ke Jepang. Walaupun perang telah berakhir bertahun-tahun sebelumnya, ia tetap menolak takut ditangkap oleh pemerintah Jepang karena telah berkhianat.
Tapi waktu itu pihak ad menegaskan mereka akan menjamin
keselamatannya saat kembali ke Jepang dengan syarat selama berada di
Jepang ia mengenakan seragam militer tentara Indonesia.
Ia pun akhirnya kembali ke Jepang dengan berpakaian lengkap
militer Indonesia. Di Jepang, ia bertemu kembali dengan istri
pertamanya, Tomiko Yano, yang telah ia tinggal pergi 31 tahun lamanya.
Namun saat itu Mitsuyuki telah menikah lagi dengan seorang perempuan
Indonesia dan memiliki 11 orang anak. Begitu pula dengan Tomiko, dia
juga sudah menikah lagi dengan lelaki lain dan tidak tahu bahwa ternyata
suami pertamanya itu masih hidup karena tidak pernah sekalipun ia
mendapat kabar.
Dilansir dari kanal YouTube Bagus Priyana Magelang, pertemuan itu
diliputi suasana penuh haru setelah masing-masing mendengar kisah hidup
yang dijalani. Mereka pun bisa mengikhlaskan dengan apa yang telah
terjadi karena masing-masing dari mereka sudah berkeluarga.
Komentar
Posting Komentar