Cerita Sukarno Saat Menjadi Tawanan Dan 4 Orang Tentara Belanda

Jakarta - Bagaimana pimpinan Republik yang tertawan itu sempat mempengaruhi empat serdadu Belanda untuk mendukung perjuangan rakyat Indonesia.

Sejak 19 Desember 1948, Presiden Sukarno resmi menjadi tawanan militer Belanda. Bersama Haji Agus Salim dan Sutan Sjahrir, Bung Karno lantas diasingkan ke Brastagi, sebuah kota berhawa sejuk.

Di sana para tawanan politik itu ditempatkan dalam sebuah rumah besar, milik pemerintah Negara Sumatra Timur yang disebut sebagai Pesanggrahan.

"Kami berada di dalam lingkungan kawat berduri dua lapis dan antara rumah kami dengan kawat berduri itu, enam orang (serdadu) pakai senapan mondar-mandir secara bersambung,"ungkap Sukarno dalam otobiografinya, Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (disusun oleh Cindy Adams).

Ketiga tawanan itu dipenuhi semua kebutuhan sehari-harinya oleh seorang pelayan bernama Karno Sobiran. Menurut kesaksian Sobiran kepada Muhammad TWH (jurnalis senior Medan), Bung Karno saat di Brastagi terlihat rajin sekali menjalankan salat lima waktu.

"Tiap pagi jam 8.00, Bung Karno melakukan gerak jalan di sekeliling Pesanggrahan, sambil menghirup udara segar pagi hari,"kenang Karno Sobiran dalam Pemimpin Republik Ditawan Belanda di Brastagi dan Prapat, sebuah buku yang ditulis Muhammad TWH.

Jika pergi keluar kamar, Bung Karno selalu dikawal oleh empat serdadu Belanda totok. Mereka selalu mengikutinya, termasuk jika senja hari dia pergi ke sebuah pohon besar rindang yang berada tepat di samping Pesanggrahan. Kepada para serdadu itu, Bung Karno sering terlhat membicarakan sesuatu yang serius.

" Dari kejauhan saya melihat Belanda-Belanda itu secara seksama mendengar apa yang dikatakan oleh Bung Karno,"kata Sobiran.

Beberapa lama kemudian, Sobiran mendengar kabar jika empat serdadu itu diam-diam telah meninggalkan Pesanggrahan menuju ke arah barat.

Rupanya, penjelasan-penjelasan Bung Karno mengenai tujuan perjuangan orang-orang Republik telah membuat nurani mereka gelisah dan goyah hingga mereka kabur untuk membelot ke kubu Republik.

Di kemudian hari, Sobiran mendapat informasi jika salah satu dari empat serdadu itu telah tewas ditembak temannya sendiri karena ragu-ragu untuk membelot.

Selanjutnya, dia sendiri tidak mengerti bagaimana nasib mereka: apakah tertangkap atau berhasil bergabung dengan tentara Republik?

Dalam buku 35 Tahun Kadet Brastagi, Arifin Pulungan (yang saat itu bertugas di Komando Resimen I) menyatakan jika kesatuannya memang pernah menawan beberapa serdadu Belanda. Anehnya, menurut Pulungan, saat ditangkap, mereka "begitu santai dan terkesan tidak ingin bertempur."

Arifin juga menyertakan sebuah foto yang memperlihatkan dua serdadu Belanda tengah duduk santai dengan tiga anggota TNI di depan sebuah rumah.

Tampak sekali mereka bukan sebagai tawanan, namun seperti sekumpulan sahabat yang tengah berpose di depan kamera.

"Bisa jadi mereka adalah sisa-sisa dari empat serdadu Belanda yang membelot itu, setelah salah seorang ditembak mati kawannya dan seorang lagi tidak diketahui keberadaannya,"ujar Muhammad TWH.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Renaissaance Dan Kapan Itu Terjadinya? Berikut Selengkapnya

Mengetahui Sosok Ki Lobama, Seorang Tokoh Penyebar Agama Islam Sebelum Munculnya Sunan Gunung Jati

Kisah Mitsuyuki Tanaka, Seorang Tentara Jepang Yang Berpihak Membela Indonesia